Dingin Alam

Dingin Alam - 26 Okt 1997

Aduh malam datang lagi
saat sinar matahari mulai bersembunyi
bersama kabut yang terus menyelimuti
takut hatiku mematikan rasa hati

Dinginnya malam menusuk tulangku
pelan mengelus setiap bulu rambutku
kuselimuti setiap ujung badan ini
menyalakan api untuk menghangatkan udara sepi
kuminum kopi sisa hari yang berganti
mencoba menahan kantuk yang datang tanpa permisi

Aku sudah tak tahan lagi
berperang melawan suhu alam ini
bahkan anginpun seperti hendak mengeroyokku
membunuh semangat untuk bertahan

aku lelah untuk melawan
kubuka selimut panjang yang menutup badan
kutelanjangi baju yang masih melindungiku
kuminup dinginnya tetesan embun
agar cemakin cepat aku membeku
dan siksapun pergi berpuas diri

kulitkupun membiru
daging ini telah dingin sedingin harapanku
berkelebat semua kenangan indah yang kulalui
membuat aku tersenyum dalam dinginnya hati
aku hanya bisa berdoa
agar jiwa ini tak pergi sebelum matahari kembali menyonari

berlahan dingin malam ini tak kurasakan
pelan mulai menghilang
aku tau mereka tidak pergi hanya duduk disini
bersama kulit yang telah mati

aku mulai tahu pada alam ini
mereka tidak garang ataupun jahat
mereka akan menyarang jika kita melawan
mereka akan diam jika kita mengikuti mereka
menyatukan diri bersama alam untuk hidup bersama

nyanyianku tak sekeras nyanyian alam
gembira hati tak terluapkan
belajar dinginnya malam
agar dapat hidup demi masa depan

Leave a Reply